Inilah Alasan Kenapa Kita Harus Belajar dari Sosok Agus Yudhoyono

by - 20.08

Agus Yudhoyuno

[Postingan ini sedikit berbeda dengan postingan yang lain. Kali ini Kanda Fajar akan mencoba untuk menulis dengan sedikit formal dan sedikit berat (baca: politik). Semoga masih tetap enak dibaca.]

Pemilihan gubernur DKI Jakarta akhirnya telah usai. Berbagai lembaga survei mulai berlomba-lomba mengeluarkan hasil quick count versi mereka. Tapi ada satu hal yang sama dari semua hasil quick count itu: Pasangan Calon Agus-Silvy berada di peringkat buncit dengan perolehan suara kurang dari 20%.

Banyak pihak sudah memprediksi hal ini sebenarnya. Beberapa malah sempat mengecam keputusan Pak SBY yang meminta anaknya keluar dari kesatuan dan terjun ke dunia politik. Keputusan yang ternyata salah karena Agus memang belum siap untuk itu.

hasil quick count


Mari sedikit kita tengok ke belakang. Sosok Agus Harimurti Yudhoyono sebenarnya memiliki karir yang cukup bagus di TNI. (Lihat strategimanajemen.net). Bahkan, andai saja beliau lebih lama di kesatuannya, bukan tidak mungkin kalau nanti akan ada nama Panglima TNI bernama Agus. Sayangnya, hal itu tidak akan pernah terjadi akibat pilihannya untuk masuk ke dunia politik yang dikenal kejam dan tanpa ampun.

Menurut berbagai sumber, sosok Agus ini sebenarnya berpengetahuan luas. Dia senang membaca dan bahkan sempat menuntut pendidikan di dua perguruan tinggi top dunia, Nanyang Technological University dan Harvard University. Bahkan, dia juga lulus dengan predikat memuaskan. Belum lagi berbagai penghargaan di bidang kemiliteran. Dari segi individu, seorang Agus Harimurti Yudhoyono tentu tidak bisa dipandang sebelah mata.

Yang jadi masalah adalah performanya dalam debat dan wawancara. Agus seperti belum benar-benar terasah kemampuannya dalam hal mengkomunikasikan pikirannya kepada khayalak ramai. Pikiran-pikriannya memang bisa jadi revolusioner tapi bagi banyak pihak, mereka melihatnya sebagai sesuatu yang mengawang-awang dan tidak kongkret. Ide-idenya cukup strategis tapi sayangnya juga cukup sulit juga dipahami. Dengan durasi debat yang hanya dua jam (yang juga harus dibagi-bagi dengan pasangan calon orang lain), cukup sulit baginya untuk menyampaikan buah pikirannya dengan benar dan detail. Andai saja, orang-orang di belakangnya tidak terburu-buru mencalonkannya, bukan tidak mungkin kalau Ahok-Djarot atau Anies-Sandi yang tersingkir.

politik memang terkadang kejam
Memang, masalah pasangan Agus-Silvy adalah waktu. Secara tiba-tiba, Partai Demokrat mendeklarasikan Agus sebagai bakal calon gubernur DKI Jakarta. Secata tiba-tiba pula, Agus mundur dari kedinasan dan mulai bersiap mengikuti Pilkada. Rentang waktunya cukup pendek, sangat pendek bahkan. Agus seperti tidak punya cukup waktu untuk belajar dan mempersiapkan diri sebelum terjun ke politik.

Tapi paling tidak, Agus mengakui kekalahannya ini dengan sikap layaknya seorang ksatria. Setelah hasil quick count diumumkan di berbagai media online, dia langsung menelepon Ahok untuk memberi selamat. Dia sebenarnya juga menghubungi pihak Anies tapi sayangnya tidak terhubung. Sikap ini yang terbilang luar biasa dan amat jarang dilakukan oleh politikus-politikus, bahkan oleh politkus senior. Agus tentu saja kecewa. Dia sudah dengan berat hati menanggalkan jabatannya yang mapan di militer demi mengalami kekalahan telak di tempat yang sama sekali baru untuknya. Dalam kondisi seperti itu, semua orang berhak marah dan kecewa. Tapi seorang Agus pantang larut dalam kemarahan dan kekecewaan. Dia dengan gagah mengakui kalau dia memang belum pantas memenangkan Pilkada DKI Jakarta.

Disaat anggota keluarganya yang lain tersulut amarahnya (Bapaknya curhat di Twitter, Ibunya kesal di Instagram dan Istrinya marah-marah di Path), seorang Agus memilih untuk menghadapinya dengan kepala dingin. Dia tidak marah-marah di media atauapun menyalahkan orang lain. Agus secara tidak sadar sudah membuat dirinya disegani berbagai pihak, baik kawan maupun lawan. Usianya (saat tulisan ini diterbitkan) masih 35 tahun. Masih banyak ruang baginya untuk berkembang. Tunggu saja, 5-10 tahun lagi, bukan tidak mungkin kita akan melihat sosoknya lagi, bukan sebagai pemimpin daerah, tapi mungkin pemimpin NKRI yang besar ini.

pemimpin sejati lahir karena diasah



You May Also Like

0 komentar