Antara Angkutan Online atau Angkutan Umum, Kamu Pilih Mana?

by - 22.54

Kemacetan di kota metropolitan


Buat kamu yang tinggal di kota besar kayak Jakarta, masalah macet memang udah jadi makanan sehari-hari buat warganya.

Bayangin aja, di Jakarta, tuh tiap hari macet, terutama di jam pulang kantor. Kalau sudah begini, biasanya orang-orang pada mengeluarkan smartphone-nya dan memesan ojek online.

Angkutan online kayak Go-Jek, Uber, dan Grab memang lagi popular banget di Indonesia. Mereka itu seolah jadi penyelamat buat orang yang tidak tahu arah. Kita tinggal pesen dan tunggu driver-nya datang. Simple dan engga ribet.

Harganya juga rata-rata ramah di kantong. Tinggal pintar-pintarnya kamu cari kode promo aja. Kan, sering tuh ada promo menarik buat pengguna baru. Nah, kamu tinggal beli kartu SIM baru yang sekali pakai dan pakai deh tuh promonya. Hehehe.

Tapi, angkutan online tidak serta merta menghapus permintaan akan angkutan umum. Tiap pulang kerja, halte Transjakarta tetap saja penuh. Mungkin karena kalau terus-terusan naik Go-Jek atau Uber bisa bikin kantong jebol, makanya masih ada banyak orang yang rela antri panjang demi dapat tempat di Transjakarta.

Antrinya panjang banget


Kalau boleh jujur, Kanda Fajar sebenarnya kuran setuju kalau Go-Jek, Uber atau Grab beroperasi di kota yang penduduknya padat seperti Jakarta. Alasannya sederhana, karena merekalah penyebab kemacetan sebenarnya.

Kanda Fajar bisa mengambil kesimpulan seperti itu karena pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri. Karena kebetulan bekerja di daerah Rasuna Said, tiap hari Kanda Fajar harus melewati jembatan Kuningan. Kalian pasti juga tahu kalau daerah Kuningan itu macetnya gimana kalau jam berangkat atau pulang kerja. 

Disitu, Kanda Fajar jadi saksi kalau sebagian besar yang mengisi "slot" macetnya jalanan di Kuningan itu ya Go-Jek, Grab dan Uber. 

Penyebab macet (menurut pendapat pribadi)


Menurut pendapat pribadi (masih sangat perlu dibuktikan kebenarannya), ada kontradiksi antara niat pemerintah untuk menggalakkan angkutan umum dan penetrasi layanan angkutan online. Maksudnya gini, driver Go-Jek, Grab dan Uber selalu mengembar-gemborkan nikmatnya jadi bagian dari komunitas pengemudi berbasis aplikasi. Mereka kadang bilang kalau bisa menghasilkan sampai 10 juta rupiah setiap bulannya, jauh lebih tinggi dari rata-rata UMR di daerah manapun di Indonesia.

Itu dari sisi driver-nya, dari sisi konsumen, Go-Jek, Grab dan Uber menawarkan kemudahaan dan harga yang murah. Perpaduan dari sisi supply dan demand yang tinggi inilah sebenarnya yang bikin jumlah motor dan mobil di jalanan Jakarta bertambah banyak. 

Padahal, angkutan umum kayak Transjakarta sekarang sudah lebih baik. Di beberapa bus malah ada yang full music. Enak banget, lah pokoknya. 

Transjakarta kalau engga di jam sibuk


Sayangnya, itu cuma bisa terjadi di luar jam kerja. Kalau kamu kebetulan naik Transjakarta pas jam kerja, suasananya pasti sumpek dan pengap karena memang penumpangnya yang tumpah ruah di saat yang bersamaan. 

Jadi mana yang lebih baik?

Jawaban Kanda Fajar tetap sama: angkutan umum

Kenapa?

Karena Kanda Fajar adalah seorang Transjakarta-addict dan mau bikin Jakarta bebas dari macet. As simple as that. 


You May Also Like

0 komentar