Banggalah Jadi Milenials, Sifat Konsumtifmu (dan Saya) Adalah Penggerak Ekonomi Dunia

by - 03.27

Kaum Digital Native via Workplace Insight
Jaman sekarang adalah jamannya millennials, jamannya anak muda kayak kamu dan Kanda Fajar. Bahkan bisa dibilang, kalau kita-kita ini generasi yang peranannya lebih penting daripada generasi lain di segala aspek. Internet dan sosial media membuat kita punya kekuatan lebih untuk mengubah dunia. Aseekk.

Tapi memang itu kenyataannya. Coba kamu perhatikan, kenapa sekarang retailer besar kayak Matahari di Indonesia dan Wal-Mart di Amerika sampai terjun juga ke e-commerce? 

Itu, kan artinya mereka tahu kalau ada orang-orang yang mau berbelanja tanpa tatap muka, dan jumlahnya banyak banget. 

Terus, siapa orang-orang itu? 

Kamu dan Kanda Fajar tentunya. Orang tua dan baby boomers mana berani belanja online. Ini termasuk bukti sahih betapa besarnya pengaruh anak muda di masa sekarang. 

Menurut penelitian dari Goldman Sachs, Millennials adalah kamu-kamu yang lahir antara tahun 1980-2000. Jumlahnya sekarang ada sekitar 92 juta orang di Amerika Serikat. Walaupun tidak ada yang data yang pasti, Kanda Fajar yakin jumlah millennials di Indonesia juga tidak kalah banyak. 

Bahkan, sudah banyak ahli yang memprediksi kalau di antara 2020-2030, millennials akan menjadi generasi mayoritas di negeri ini. Artinya, di masa depan, Indonesia akan mengalami bonus demografi, penduduk usia produktif lebih banyak dari yang tidak produktif. Wow!

Millennials mulai menguasai dunia
Lalu apa manfaat dari banyaknya jumlah anak-anak muda kayak kamu dan Kanda Fajar ini?

Kalau ngomongin soal startup dan entrepreneurship, itu sudah biasa. Semua orang juga tahu kalau dengan kekuatan internet, millennials bisa terjun ke dunia bisnis dalam sekejap. Yang mau Kanda Fajar tekankan disini adalah dari sisi makro ekonominya.

Ehmm. Bahasannya jadi berat, ya?

Memang. Tapi Kanda Fajar akan mencoba menjelaskannya dengan sederhana dan santai.

Dampak Positif dari Sifat Millennials yang Konsumtif

Sifat konsumerisme via tembok abstrak
Hayoo. Ngaku aja, deh. Kamu yang usianya 17-34 tahun pasti sering khilaf kalau liat barang-barang lucu di Instagram atau Facebook. Itu belum termasuk kalapnya kamu lihat iklan-iklan Lazada, Tokopedia atau BukaLapak. 

Walaupun banyak yang bilang sifat konsumtif itu salah, kalau digali lebih dalam, kamu lah yang membuat dapur toko online-toko online itu tetap ngebul. "Sifat jelek" kamu ini lah yang membuat Tokopedia dan BukaLapak dihargai mahal oleh para investor. 

Poin pentingnya begini: Tanpa kamu sadari, semakin konsumtif kamu semakin cepat ekonomi nasional (terutama ekonomi digital) bergerak.

Kok bisa gitu?

Salah satu indikator penting dalam ekonomi adalah GDP (Gross Domestic Product) atau PDB (Produk Domestik Bruto). Nilai GDP atau PDB menujukkan total nilai produksi barang dan jasa di dalam suatu negara selama satu tahun. Intinya, semakin gede GDP/PDB, makin bagus bagus ekonomi nasionalnya.

Nah, GDP sendiri rumusnya begini:

GDP = C + G + I + NX

Mari kita bedah sedikit komponen-komponennya.

C artinya Consumer Spending. G artinya Government Spending. I artinya Investment, dan NX adalah nilai perbedaan antara Export dan Import

See, ada dua kali kata "Spending" diucapkan. Artinya, tingkat konsumsi dan belanja jadi faktor yang bisa mem-boost GDP/PDB. 

Ada contoh kasus menarik dari krisis ekonomi tahun 2008. Mungkin banyak dari kamu yang engga tahu kalau di tahun itu, negara-negara dengan ekonomi raksasa kayak AS dan Jerman sedang kelimpungan. Bank-bank di negara-negara tersebut bangkrut dan terpaksa mengetatkan anggaran. 

Tapi krisis tadi hampir engga terlalu terasa di Indonesia. Businessperson yang fokusnya ekspor mungkin akan pusing tapi buat yang fokusnya ke pasar domestik, mereka tidak perlu khawatir. 

Kenapa?

Karena konsumsi dalam negeri tetap tinggi. Nilai C dalam rumus diatas cukup mampu mengangkat GDP tetap tinggi. GDP growth rate-nya Indonesia saat itu sampai tembus 6%! AS aja malah nyungsep ke -0.92%.

Konsumsi kayaknya tetap bakal jadi penopang ekonomi Indonesia di era internet. Banyak analis teknologi yang bilang kalau masa depan e-commerce itu cerah banget di Indonesia. Prediksi itu semua dari banyaknya jumlah millennials yang perilakunya konsumtif. 


Millennials punya banyak uang untuk dibelanjakan via Stret Marketing
Coba bayangkan kalau perilaku millennials di Indonesia itu hemat dan cenderung suka nabung?

Bisa-bisa engga akan ada yang namanya dunia startup di Indonesia bisa sepi kayak handphone orang jomblo. Hehehe.

Makanya, mulai sekarang, kalau ada yang protes soal sifat borosmu, bilang aja itu untuk menopang perekonomian bangsa. Pasti mereka akan maklum :)

[Catatan: Artikel ini dibuat bukan untuk membenarkan kebiasaan berfoya-foya dan menghamburkan uang. Tulisan ini cuma sekedar menjelaskan betapa kuatnya kekuatan para millennials dalam kegiatan ekonomi nasional. Semua yang tertulis diatas berdasarkan opini seorang mahasiswa saja. Masih harus dibuktikan kebenarannya.]


You May Also Like

0 komentar