Pilkada Memanas: Analisis (agak) Mendalam Tentang Persaingan Antar Paslon yang Berlaga Berebut Hati Warga

by - 12.56

Pilkada atau Pilpres?

Judulnya serius kayak skripsi, ya? Hehe

Maklumlah, sebagai mahasiswa semester 6 udah seharusnya Kanda Fajar siap-siap bikin skripsi. Salah satunya ya latihan bikin judul kayak judul artikel ini.

Dari judulnya, kamu kayaknya udah tahu artikel ini isinya bakal kayak gimana. Yup. Berhubung bentar lagi pilkada DKI Jakarta mau kick off (2 hari lagi saat tulisan ini dibuat), ada baiknya Kanda Fajar mengutarakan pendapat pribadi disini.

Persaingan di Pilkada DKI Jakarta ini pamas banget. Kalau kata Pandji di blognya, ini adalah "Pilkada rasa Pilpres." Ada terlalu banyak pihak yang bermain. Ada terlalu banyak pihak yang memanfaatkan situasi. Dan jangan lupa, ada banyak juga hal-hal yang sebenarnya terlalu sensitif untuk diperdebatkan.

Pilkada DKI bukan cuma soal kontestasi Ahok-Djarot vs Anies-Sandi. Kalau Kanda Fajar lihat, ini lebih kepada persaingan sampai titik darah penghabisan. Kayak perang kemerdekaan. Bedanya melawan negara sendiri.

Hasilnya? Beberapa pihak jadi amat sangat serius dan kadan melakukan apa saja untuk menang.
Kalau Kanda Fajar boleh bilang, Pilkada DKI 2017 ini pada dasarnya berisi 2 isu utama: penistaan Agama Ahok dan keretorikaan Anies.

Mari kita sedikit bahas disini. Kalau boleh jujur, mengharapkan kepala daerah yang bukan Islam itu susahnya setengah mati, kecuali kalau penduduknya mayoritas non-islam. Ini terjadi di banyak daerah di Indonesia. Di kota tempat Kanda Fajar lahir, Balikpapan, cuma ada satu partai yang berasaskan kekristenan. Partai Damai Sejahtera kalau tidak salah. Awalnya banyak yang berharap partai baru ini akan bisa sejajar dengan PKS atau PPP yang terkesan "Islam banget."

Nyatanya? Belum habis 5 tahun masa kerja, partai ini bubar. Salah satu kadernya bahkan harus bangkrut total karena kalah banding di Mahkamah Agung. Kanda Fajar tahu itu, karena orang yang dimaksud adalah teman orang tua Kanda Fajar sendiri.

Dari sini saja bisa dilihat kalau tidak mudah menjadi pemimpin kalau kita berbeda. Apalagi kalau agamanya beda.

Pak Ahok mungkin sebuah anomali. Dia sempat menang jadi Gubernur Belitung yang mayoritas muslim. Dan berdasarkan pengalaman itu, beliau dengan percaya diri melenggang menuju Kursi DKI 1.

Yang jadi masalah selanjutnya adalah DKI Jakarta adalah ibukota negara, kota terpenting di Indonesia. Dan lagi, disitu ada Front Pembela Islam (FPI) yang siap meluruskan syariat Islam di Jakarta.

Kanda Fajar enggak tahu, mungkin karena terdesak dengan keberadaan FPI, maka keluarlah pernyataan kontroversial Ahok di kepulauan Seribu. Kalau yang Kanda Fajar lihat, hal itu seharusnya tidak perlu diucapkan karena terlalu sensitif.

Maksud Pak Ahok mungkin memang tidak salah, tapi pernyataan itu bisa sangat mudah dipelintir banyak pihak. Dan secara tidak langsung membuat benteng pak Ahok diserang lebih banyak musuh.
Musuh terbesarnya Pak Ahok ini bukan Bang Anies, tapi Habib Rizieq. Lihat saja betapa getolnya FPI mengadakan aksi di tanggal-tanggal cantik dan mudah diingat. Bukan cuma itu, FPI bahkan mengajak seluruh umat FPI datang mengawal Pilkada Jakarta di bawah bendera "Tamasya Almaidah."

Gunakan hak Votingmu, guys!!
Kanda Fajar melihat ini bukan sebagai usaha memenangkan Anies, tapi menjegal Ahok.

Masalah kedua adalah soal Anies yang dianggap tidak kompeten dan penuh retorika.

Pak Anies sangat beruntung punya Pandji yang punya kemampuan storytelling mumpuni dan audience yang banyak. Memilih Pandji sebagai juru bicara merupakan keputusan tepat dan cerdas. Kanda Fajar akui itu. Bahkan, jauh lebih baik dari kubu Ahok yang diwakili Ruhut Sitompul.

Sayangnya, hal itu tidak dibarengi dengan kesiapan Pak Anies menyuarakan gagasan yang selama ini beliau agung-agungkan.

DP 0 rupiah misalnya. Programnya memang terdengar bagus dan berpihak pada rakyat kecil. Tapi persyaratan minimalnya harus konsisten menabung 2,3 juta tiap bulan selama 6 bulan terakhir di Bank DKI. Nabung adalah masalah kebiasaan. Mau sekecil apapun nilainya, kalau engga biasa ya engga bakal bisa.

Mau membentuk kebiasaan itu? Bisa aja tapi pasti butuh lebih dari 5 tahun menjabat. Bisa-bisa selama 5 tahun, DP 0 bisa salah sasaran atau malah tidak optimal penyerapannya.

Dan lagi, Kanda Fajar merasa kalau Pak Anies lebih banyak menyerang pribadi lawannya daripada programnya. Menurut Kanda Fajar ini jelas tidak elok. Kata-kata Pak Anies yang mau "pecat Ahok dari Jabatan Gubernur" di debat Mata Najwa juga blunder yang sama seperti pak Ahok dengan Almaidah-nya. Hanya saja isunya memang kurang sensitif untuk dijadikan sasaran demo hehe.

Kesimpulan


Julukan "Pilkada Rasa Pilpres" agaknya memang tepat buat situasi di DKI Jakarta sekarang ini. Terlalu banyak pihak dan kepentingan yang bermain sampai-sampai​ paslon yang bertanding membuat blunder yang tidak perlu.

Blunder keduanya paling tidak dilihat dari iklan yang sama-sama kontroversial.




Punya Anies-Sandi




Punya Ahok-Djarot

See? Sama aja, kan mereka?

Makanya, berhubung pilkada tinggal menghitung jari, habiskan waktu kamu terutama yang pemilih muda untuk browsing soal paslon mana yang bakal kamu pilih. 

Kanda Fajar berusaha berimbang dalam menulis ini. Tapi ya namanya subjektivitas pasti ada di setiap manusia, kan?

Maksudnya gini. Kanda Fajar tidak bisa memungkiri kalau dukungan orang-orang gereja ke Ahok itu luar biasa besar. Apalagi, menjelang detik-detik pemilihan, beuh teman-teman Kanda Fajar di gereja bisa sampai semangat gitu buat nyoblos. 

Kanda Fajar juga yakin hal yang sama juga terjadi di masjid-masjid. Disana pasti banyak Ustad dan Ustadzah yang menghimbau warganya untuk memilih Anies. Jadi kesimpulannya, Kanda mau mengingatkan kamu untuk tidak apa-apa bersikap subjektif. Asal kamu bisa menghargai pilihan orang yang berbeda. 

Camkan itu! Azekkkk

You May Also Like

0 komentar