Udahan dong Bully-nya, Pak Ahok kan Udah Kalah

by - 19.00

Sebelum Kanda Fajar melanjutkan tulisan ini, Kanda Fajar mau meluruskan satu hal: Kanda Fajar ini memang pendukung Ahok. Tapi, seperi kata Jonru di Fanpage-nya, Kanda Fajar bukan pecinta buta. Kanda Fajar juga akan mengkritik tindakan Ahok yang menurut Kanda Fajar salah. Garis bawahi kata menurut. Artinya, disini Kanda Fajar bisa saja sangat subjektif, tergantung penilaian kamu juga, sih sebenarnya. Hahaha

Oke. Seperti yang sudah kamu-kamu tahu, Ahok kalah dalam Pilkada DKI Jakarta putaran kedua. Kalahnya juga cukup telak, 42 banding 58 persen.

Bersamaan dengan kekalahan itu, entah kenapa cercaan kepada pak Ahok tidak juga reda. Pak Ahok masih saja jadi korban tudingan orang lain. Pak Ahok masih saja jadi korban dari "kekhilafan" pendukung-pendukungnya.

Kekhilafan disini artinya para pendukungnya masih, termasuk Kanda Fajar sendiri, masih tidak rela kalau Ahok kalah. Kanda Fajar masih tidak rela kalau Jakarta melewatkan kesempatan untuk menjadi tempat dimana seorang Ahok bisa berkarya.

Karya yang mana? Karya yang belum sempat beliau selesaikan, seperti proyek flyover Pancoran, MRT dan rumah susun buat yang kurang mampu. Sekarang, tugas-tugas itu nantinya akan diemban oleh Bang Anies dan Bang Sandi. Kanda Fajar harap bapak gubernur dan wakilnya bisa membangun Jakarta lebih baik lagi.

Oke. Bahasan Kanda Fajar udah mulai ngelantur. Sekarang kita kembali ke bagian bully mem-bully yang tiada henti ditujukan ke Pak Ahok, dan keluarganya.

Wait, keluarganya?

Ya. Kamu engga salah baca. Bully-an orang-orang sekarang juga sudah merambah kemana-mana, ke ibu Veronica lebih tepatnya.

Kok, Kanda Fajar bisa tahu?

Kanda Fajar tahu pas ibu Veronica posting ini di akun instagram-nya.


Dan ini komentar beberapa orang yang Kanda Fajar screenshot.





Wait again, kenapa ada komentar bully kayak gitu di postingan ibu Vero?

Note: fokuskan perhatian pada komentar komentar akun khoirulbariyah3565. Lupakan sejenak akun kaylahy56 yang sempet banget jualan disitu. Hahaha. Kalau kamu tertarik, kamu boleh kok coba message dia. :)

Kalau itu engga disebut bully, tolong kasi tahu Kanda Fajar istilah yang benarnya.

Pas Kanda Fajar liat postingan ini, Kanda Fajar sedih. Bukan karena Kanda Fajar pendukung Ahok, tapi karena komentar tadi sangat tidak seharusnya ditujukan ke postingan ibu Veronica itu.

Coba kamu perhatikan, apa ada yang salah dari postingan itu?

Kanda Fajar rasa tidak. Foto dan caption-nya normal, tidak menyinggung siapa-siapa malah cenderung menenangkan rasanya.

Anehnya, kenapa masih ada orang yang dengan "berani" melakukan itu? Dan dikomentar-komentar selanjutnya, arah pembicaraan selalu kembali ke topik  agama.

Ini terlalu aneh. Topik pilkada, eh diarahin lagi ke perbedaan agama.
Dan dengan gagahnya, si akun itu mendasarkan semua tuduhan pada video YouTube!!!!


Wow. Wow. Wow. Wow.

Kanda Fajar tau kalau YouTube sekarang lebih dari TV. Tapi ingat, fungsi utama YouTube itu untuk berbagi video, bukan media pembelajaran, seperti Ted Talk misalnya.

Semua orang bisa di dunia bisa meng-upload apapun ke YouTube. Makanya, tidak semua video itu aman dikonsumsi. Banyak video-video yang engga berguna sampai kekerasan bertebaran disana. Bahkan konon, ISIS pun menggunakan platform ini buat menjaring masa yang lebih banyak.
Serem, kan? Makanya, kita engga seharusnya percaya 100% sama YouTube, terutama untuk isu-isu yang sensitif seperti agama.

Untuk tema-tema seperti itu, buku agaknya media yang lebih baik. Lewat buku, tema-tema seperti itu bisa mendapat tempat yang lebih lega dan lebih mampu menampung lebih banyak informasi.

Males bacanya?

So, It's better to shut up your mouth.
Eh, salah. It's much better to stop bullying others online.

Disini memang Kanda Fajar akui kalau mungkin kamu merasa kalau pendapat Kanda Fajar agak berat sebelah. Tapi poin pentingnya adalah bullying is not cool. Ever.

Terlebih kalau dalam prosesnya, seseorang itu membawa-bawa agama sebagai dasar dia bersikap sok benar, sok suci, dan sok taat. 

Kayaknya sudah dari SD kita diajarin kalau SARA adalah isu yang sangat sensitif, bukan cuma di Indonesia, tapi juga diseluruh dunia. Bahkan negara sebebas dan seliberal Amerika Serikat aja tidak bisa mengelak kalau diserang lewat isu ini. 

Jadi, Kanda Fajar mohon kamu-kamu semua untuk lebih dewasa lagi dalam bermedia sosial. Jangan gunakan smartphone di tanganmu untuk menutupi perbuatanmu yang engga keren dan bahkan menyakiti perasaan orang lain.

Isu agama seharusnya sudah tidak lagi relevan untuk dibawa-bawa ke ranah online. Bukan saja karena sensitiviatsnya, tapi lebih karena menghargai perbedaan yang ada. 

Harus Kanda Fajar akui kalau setiap keyakinan meyakini bahwa yang dialah yang paling benar dan paling hakiki. Tapi, jangan sampai kita memaksakan apa yang kita percayai pada orang lain. 

Disini Kanda Fajar tidak mengatakan kalau berdakwah atau berkhotbah secara online tidak etis dan tidak pantas. Bukan itu maksudnya. Yang Kanda Fajar maksud adalah kita bantu teman kita atau siapapun itu menemukan ajaran yang bisa dia yakini, bukan memaksakan dia untuk ikut apa yang kita yakini, Dan kalau ternyata beda, ya jangan merasa paling benar dan bully yang lain, dong ya. 

You May Also Like

0 komentar