Mudahnya International Finance #1: Pelajaran Hidup by Suwinto Johan

by - 19.34

Suasana kelas International Finance yang Kanda Fajar Rasain via pexel.com
[Postingan ini dibuat sebagai jeritan hati Kanda Fajar dan teman-teman selama menjalani kelas International Finance yang kadang horor tapi kadang juga menginspirasi]

Apa yang ada dipikiranmu kalau dengar istilah "dosen killer"?

Banyak tugas, suka marah-marah, suka seenaknya atau suka ngejatuhin mental mahasiswa?
Apapun itu, yang jelas dosen killer adalah tipe dosen yang harus kamu jauhin. Jangan sering-sering ketemu beliau, jangan sering-sering bikin masalah atau jangan banyak tingkah. Salah-salah malah kamu yang jadi korban ke-killer-an dosen itu lagi.

Tapi gimana kalau kamu diharuskan masuk kelas beliau?

Kalau masih ada harapan, mendingan kamu buruan ganti kelas sebelum terlambat. Tapi kalau udah engga ada harapan, mau engga mau kamu harus menghadapi itu. Siapa tahu kamu malah dapat pelajaran penting yang engga akan pernah kamu dapetin di dosen lain.

Itulah yang Kanda Fajar rasain sama teman-teman sekarang setiap pelajaran International Finance dengan Bapak Suwinto Johan sebagai dosennya.

International Finance bisa dibilang adalah bagian dari mata kuliah International Business. Kalau di IB nanti belajar offshore, outsource dll, kalau IF lebih ke kurs mata uang, FDI dan ekspor impor dengan pendekatan yang sangat matematik.

Jujur, Kanda Fajar sama sekali buta dengan IF. Bukannya mencari alasan, tapi beban tugas dan organisasia yang menumpuk membuat Kanda Fajar (dan teman-teman) lupa beberapa konsep dasar finance. Dan ini membuat Pak Suwinto geleng-geleng kepala.

Saat lecturing, pak Suwinto tidak pernah bawa text book. Beliau cuma bawa handphone, kacamata, botol starbuck yang warnanya item ijo dan kadang laptop. Cara ngajarnya juga lewat case study yang beliau beli asli dari Harvard Business Review. Katanya, mahasiswa bisa belajar lebih banyak lewat case ketimbang lewat buku yang per chapter.

Sound brilliant, right? Ya, memang. Tapi kenyataan tidak semudah kedengarannya.

Kanda Fajar engga masuk di hari pertama dan kedua karena memang harus kerja. Otomatis, Kanda Fajar harus masuk di hari ketiga biar jatah absennya terjaga. Kanda Fajar belum kenal sama sekali sama orangnya, tapi teman-teman memperingatkan untuk tidak macam-macam dengan beliau.

Kenapa?

Karena beliau kecewa dengan kemampuan finance Kanda Fajar dan teman-teman. Dan akhirnya Kanda Fajar mengaku kalau suasana kelas menjadi lebih sunyi dari biasanya, lebih horor, lebih menakutkan.

Saat beliau tanya soal salah satu konsep, satu kelas diam. Tidak ada yang punya cukup keberanian untuk menjawab. Kalau ada yang mencoba menjawab, Pak Suwinto dengan cepat men-tackle jawaban itu. Menurut beliau, lebih baik tidak menjawab daripada guessing atau asal bunyi. Istilah beliau, kita harus fokus sama  case-nya, jangan malah bikin cerita baru lagi. Saat yang tanya, beliau malah minta mahasiswa untuk mikir dulu sebelum nanya. Alhasil, banyak dari teman-teman Kanda Fajar punya first impression yang ga bagus soal pak Suwinto.

Bukan cuma itu, beliau juga orang yang sangat praktikal. Saat beliau tanya sesuatu, maka jawaban yang beliau harapkan adalah tentang "berapa nilainya" dan "bagaimana mendapatkannya" bukan definisi. Ini tentu kabar buruk buat mahasiwa-mahasiswa yang text book banget, termasuk Kanda Fajar.

Hari ketiga dan keempat Kanda Fajar akhirnya masuk. Dan memang suasana kelas jadi lebih sunyi dari biasanya. Kalau Pak Suwinto tanya sesuatu, yang lain menundukkan kepala, mengheningkan cipta karena takut menjawab. Selama tidak ada jawaban, selama itu pula Pak Suwinto menunggu ada yang bersuara. Kadang Kanda Fajar, menengok sedikit melihat ke arah Pak Suwinto. Dari situ, Kanda Fajar tahu ada raut wajah kekecewaan yang terpancar jelas dari beliau.

The Bottom Line


Suasana kelas kalau Pak Suwinto nanya konsep Finance via pexel.com
Menurut pengamatan Kanda Fajar, Pak Suwinto itu engga killer tanpa sebab. Pengalaman hidupnya yang keras membuat beliau "rela" mengajar Kanda Fajar dan teman-teman dengan keras juga. Menurutnya, itu sangat membantu menempa mahasiswa untuk tidak lembek, disiplin dan berintegiritas.

Terlahir sebagai Cina totok, Pak Suwinto pindah ke Jakarta dari Palembang untuk berkuliah. Kanda Fajar lupa tahun berapa tapi yang jelas, beliau bisa kuliah dari uang sumbangan orang-orang saat kakeknya meninggal. Dari uang itu, masukklah beliau ke Atmajaya yang notabene Katolik banget jaman dulu. 

Tiap pagi beliau harus bolak balik Sunter-Sudirman buat kuliah. Naik busway panas-panas sampai dipalak preman beliau rasain. Bahkan katanya, beliau pernah ditodong pistol dikepala sama preman. Serem banget sih. Kebayang, ga kalau kamu ada di siatuasi itu.

Dari situ, Pak Suwinto memutuskan untuk berangkat pagi dan pulang malam. Ditengah-tengah, Pak Suwinto menghabiskan waktu untuk baca buku di perpustakaan sampai ikut Student Council di Atmajaya. Nah, kalau Kanda Fajar boleh bilang, Pak Suwinto ini anaknya akademik banget pas di kampus. Bayangin, beliau tidak berminat ikut band, mapala atau klub-klub lain. Beliau berminatnya mentoring atau ngasi les-les gitu supaya bisa sekalian belajar juga katanya. 

Dari bekal nilai bagus, wakil president student council sampai mentoring mengantarkan Pak Suwinto muda masuk ke program MT-nya Astra Capital. Disitu, atasannya beliau orangnya males plus suka marah-marah. Engga sekali dua kali dia ngatain Pak Suwinto sama MT-MT lain dengan fucking stupid sambil jari tengah mengacung dengan tegasnya. 

Kanda Fajar mungkin udah nyerah kalau dapat perlakuan begitu, tapi Pak Suwinto enggak. Beliau malah bersyukur karena atasannya males. Jadi beliau bisa belajar lebih banyak dan tahu lebih banyak. Alhasil, cuma dalam waktu 5 tahun, Pak Suwinto udah jadi pegawai level 5 di Astra. 

Dari situ, beliau mencari tantangan baru di Citibank, dll sampai akhirnya berlabuh di Mandala Multifinance sebagai CEO. WOW! Jelas aja kalau beliau tahu banget seluk beluk finance secara praktikal.

Soal gaji engga usah ditanya, lah. Dari tahun 2006 aja beliau udah bergaji ratusan juta per BULAN, Apalagi sekarang.

Lesson Learned

Ke-killer-an Pak Suwinto menempa Kanda Fajar dan teman-teman untuk menghadapai dunia yang sesungguhnya
Ada banyak banget pelajaran hidup yang bisa dipelajari dari dosen killer satu ini. Tapi karena keterbasan semangat dan waktu, Kanda Fajar cuma mau bagi 2 aja. 

Pertama adalah INTEGRITY. Pak Suwinto nekanin banget pentingnya integritas di dunia kerja dan kehidupan sehari-hari. Beliau bilang kalau uang banyak itu engga ada gunanya kalau kamu engga punya integritas. Uang kamu nanti "engga bakal jadi daging" dan malah bikin hidup engga tenang. 

Nah, salah satu cara memupuk integritas caranya adalah dengan tidak menyontek. Susah sih memang soalnya Kanda Fajar sendiri juga ngaku kalau sering banget nyontek. Tapi, ya itu tadi, hasilnya malah bikin kamu engga bisa apa-apa dan engga tenang. 

Kedua adalah PERSISTENCE. Jangan mudah bilang apapun susah atau engga mungkin dikerjakan. Kalau bisa malah kamu cari cara mudahnya aja. Oh, iya. Persistence disini juga bukan semata-mata kerja keras tapi juga cerdas. Kalau Kata Pak Suwinto kamu harus bisa leverage yourself up. Cari cara termudah dan tercepat untuk meraih sesuatu. Bikin planningnya dan lakukan terus menerus. Itu maksudnya persistence.

Kombinasi keduanya niscaya bisa bikin kamu, Kanda Fajar dan teman-teman yang lain sesukses Pak Suwinto. Walaupun Kanda Fajar engga bisa ngasi jaminan 100%, tapi Pak Suwinto udah cukup ngasi bukti kalau memang dua hal itu benar adanya.

Note: Pak Suwinto sekarang udah engga galak-galak amat. Di kelas masih tetep, sih tapi kalau diluar kelas (di grup Whatsapp maksudnya), beliau suka ngasi video-video motivasi, foto-foto makanan enak dan bahkan kadang nanya pertanyaan tersulit dijawab dalam hidup. 

Pernahkah Anda memikirkan apa passion of your life? What's your purpose in this life? Mau jadi apa dan kapan mencapainya?

Sungguh ini pertanyaan yang luar biasa berat. Tapi, Pak Suwinto udah bisa jawab itu sejak SMP. Di umur segitu malah Kanda Fajar malah masih sibuk main. Engga sempat mikir yang begitu. huft....

You May Also Like

0 komentar