My Little Baby, Jaya: FUCK ALL BULLIES

by - 18.01

Hari ini, Senin 5 Juni 2017.

22 jam setelah kemenangan back-to-back Real Madrid di Liga Champions, Kanda Fajar yang engga bisa tidur akhirnya memutuskan untuk nonton film yang udah beberapa hari lalu di download. Kali ini yang Kanda Fajar tonton bukan film barat, tapi film Korea. Judulnya My Little Baby, Jaya. Kalau kamu cek trailer-nya, kamu mungkin akan merasa kayak nonton Miracle in Cell no. 7.

Pasalnya, film ini sama-sama bercerita soal pasangan ayah penyandang disabilitas dan anaknya yang manis. Dari judulnya, pun Kanda Fajar sebenarnya mengharapkan cerita yang mengharu biru dan menguras air mata. Tapi diakhir film, film ini bukan bikin Kanda Fajar nangis, tapi mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kotor pada karakternya.

Sinopsis

Jaya saat di Paduan Suara
Pusat cerita adalah Jaya, seorang anak perempuan manis yang memiliki ayah dengan keterbelakangan mental. Awalnya mereka hidup damai di sebuah desa kecil bernama guanddwo. Tapi demi mengembangkan bakatnya di bidang tarik suara, Jaya dan ayahnya pindah ke Seoul.

Semua tampak baik-baik saja pada awalnya. Bakat Jaya terendus guru vokal dan diajak masuk grup paduan suara SMA. Ayahnya pun demikian. Meski sempat kesulitan mendapat tempat berjualan, ayahnya akhirnya mendapat tempat yang sesuai dan bahkan teman-teman baru yang tidak memandangnya sebelah mata.

Semua berubah saat di camp latihan paduan suara, Jaya mengaku sebagai anak pebisnis pakaian. Esoknya, kakak kelas tiga yang-katanya-ganteng-padahal-engga merayu Jaya ke semak-semak. Jaya yang polos mau-mau aja. Apesnya, ada seseorang yang merekam kejadian itu. Dia lalu melaporkannya pada si ketua geng cewek yang-samasekali-engga-cakep. Karena terbakar cemburu, cewek ini dan gengnya mulai mengganggu Jaya.

Bukan cuma itu, si kakak tingkat pun merasa dibohongi. Dia mendatangi rumah Jaya dan menumpahkan kekesalannya yang salah sasaran itu. Mencoba untuk tetap tegar, Jaya berlagak tidak terjadi apa-apa disekolah. Tapi saat ayahnya dihina, Jaya mulai hilang kendali dan diskors sampai waktu yang tidak ditentukan.

Selama masa skorsing, Jaya bekerja part time di sebuah toko. Disana, dia berteman dengan si supervisor yang kebetulan juga mendalami hukum. Dari situ, muncullah ide untuk mengirim petisi soal bully ke department pendidikan Korea Selatan.

Bukannya kapok, "teman-teman"-nya malah semakin membully Jaya dengan tidak manusiawi. Jaya diperkosa berkali-kali. Dia digilir kakak tingkatnya yang biadab dirumahnya sendiri. Kakak tingkatnya yang cewek malah merekam adegan itu sebagai alat untuk memperbudak Jaya. Dia menyuruh Jaya untuk menjual tubuhnya ke om-om hidung belang. Kalau tidak, dia akan mengirimnya ke ayah Jaya.

Semua itu terjadi berkali-kali sampai pada suatu titik, Jaya memutuskan untuk bunuh diri. Ayahnya tambah kecewa saat tahu bahwa anak satu-satunya menjadi korban bully di sekolah yang katanya elit di Seoul. Karena tidak mendapat bantuan dari pihak sekolah maupun dari kepolisian, ayah Jaya sendiri yang membawa keadilan bagi anaknya. Dia mulai mengincar orang-orang yang mem-bully anaknya dan membunuh mereka dengan keji.

Depresi akibat Bully


Pesan moral


Saat nonton film ini, Kanda Fajar tidak bisa menahan diri untuk tidak marah, jengkel dan berkata-kata kotor. Perbuatan siswa-siswa yang mem-bully Jaya itu bener-benar biadab. Kanda Fajar rasa tidak ada satupun orang tua di dunia yang sanggup melakuian bahkan memikirkan hal itu. Sepanjang film, Kanda Fajar beberapa kali tanpa sengaja mengucapkan FUCK, ANJING, BANGSAT, BRENGSEK dan apalah itu. Semua karena Kanda Fajar yakin para pem-bully memang pantas dikata-katai seperti itu.

Bully adalah kejahatan berat. Seharusnya dia disamakan dengan genosida karena efeknya yang luar biasa besar dan mengakar kuat. Semua tindakan bully merusak fisik dan mental korbannya. Menurut Kanda Fajar, pelaku bully tidak pantas disebut manusia. 

Masalah semakin diperparah karena korban bully tidak mampu bersuara dan berdiri tegak karena selalu ditekan. Mereka adalah kaum powerless, voiceless yang seakan separuh lebih hidupnya dimiliki si pem-bully. 

Kanda Fajar mau jujur, Kanda Fajar tidak pernah jadi korban bully. Jadi Kanda Fajar mungkin tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya diperlakukan rendah orang lain. Kanda Fajar cuma tahu dari film. Tidak lebih. 

Yang Kanda Fajar tidak suka adalah bagaimana senangnya mereka, para pem-bully, untuk terus menekan korbanya walau mereka sudah menyerah kalah dan cuma mengharapkan satu hal: kedamaian. Semakin si korban diam dan tidak menghiraukannya, semakin menjadi-jadi kelakuan si pem-bully. 

Dalam keadaan seperti ini, Kanda Fajar cuma bisa berpesan dua hal saja: busungkan dadamu dan berjalanlah dengan tegak. 

Jangan biarkan orang lain memandangmu lemah. Kalian dan Kanda Fajar bukan orang lemah. Kita adalah pejuang. Pejuang yang akan terus melawan sampai melawan tidak lagi perlu dilakukan. 


This is not an anger. This is a wrath. I am wrath to know why bullies exist in this beautiful world. 


Buat kamu yang merasa korban bully atau terpaksa menjadi pem-bully, suarakan opinimu. Ceritakan pengalamanmu pada orang lain. Jangan malu karena yang seharusnya malu adalah mereka, orang-orang tanpa perasaan yang merendahkan derajat orang lain.

Sekian.

You May Also Like

1 komentar

  1. saya baru saja menonton film ini. dan sama. emosi setengah mati. rasanya dari awal smp akhir gak kuat. anjing, babi, bangsat. itu jg keluar dr mulut saya. pengen banget mukulin tukang perkosa, cew2 biadab itu jg smp mati. smpt hopeless krn polisi gak bs ap2. tau nya bpk nya yg jd psycho. huffff. seorang ayah tetaplah seorang ayah. cacat bkn berarti lemah. klo bkn bpk itu yg bunuh, mgkn saya sndiri yg melakukan nya ! itu respon saya. stop bully or you will get revenge ! terima ksih. (tonny)

    BalasHapus