Pelajaran dari Demo Buruh: Naik Gaji Bukan Jalan Keluar. Budgeting Jawabannya

by - 14.00

aksi buruh di May Day 2017
Saat tulisan ini dibuat, kantor balaikota Jakarta sedang dipenuhi sekitar 100 ribu buruh yang berdemo.

Yepat hari ini, 1 Mei 2017, buruh-buruh kembali berdemo untuk menuntut hak-hak mereka yang konon katanya ditelantarkan perusahaan tempat mereka bernaung.

Seperti biasa, mereka yang berdemo menuntut peningkatan kualitas hidup, atau dalam bahasa sehari-hari dikenal sebagai minta kenaikan gaji dan tunjangan pensiun.

Kok Kanda Fajar ngangkat topik beginian? Emang ada hubungannya sama ngatur duit di dompet?
Dalam beberapa hal, kaum millenial kayak kamu dan Kanda Fajar bisa mengambil pelajaran dari demo buruh yang berlangsung tadi pagi.

Kalau kamu baca artikel kompas ini, Kanda Fajar jamin kamu bakal geleng-geleng kepala sama permintaan pendemo. Di artikel itu dijelaskan kalau buruh minta gajinya disetarakan dengan PNS. Bukan cuma itu, para pendemo juga minta supaya dana pensiun buruh tidak lagi menggunakan sistem premi alias dipotong dari gaji pokok. Sebagai gantinya, pendemo "merekomendasikan" pemerintah untuk menggunakan uang APBN sebagai sumber dana pensiun buruh. Dengan kata lain, duitnya ya dari wajib pajak kayak kamu atau orang tua kamu.

Menurut Kanda Fajar pribadi, permintaan buruh kali ini terdenar mengada-ada dan engga fair. Terlebih sama permintaan yang minta dana pensiun diambil dari APBN, ini jelas aneh banget.
Di negara manapun, termasuk yang perekonomiannya maju kayak Amerika Serikat, engga pernah buruh perusahaan jadi tanggungan negara. Secara hierarki, mereka ada dibawah naungan perusahaan tempat mereka bekerja, dong.

Lagian, kita semua juga tahu kalau sekali gaji buruh naik, harga barang-barang juga naik untuk menutup biaya produksi. Malah seringkali, kenaikan harga barang (inflasi) lebih besar dari kenaikan gaji buruh. Istilahnya, mau segede apapun gajinya ya tetep bakal kurang.

Disini, kita sama sekali engga bisa menyalahkan inflasi. Inflasi terjadi murni karena mekanisme pasar (supply-demand). Peraturan pemerintah biasanya cuma bisa mengantisipasi inflasi bukan menentukan nilainya. Jadi poin pentingnya adalah minta kenaikan gaji itu cuma kegiatan yang buang-buang waktu. Kenapa waktu buat demo dipakai buat liburan bareng keluarga atau istirahat seharian penuh? Kan, itung-itung bisa recharge energi buat kerja esok harinya.

Kalau gitu, apa dong solusi jitunya?

atur pengeluaranmu, guys
Menurut Kanda Fajar pribadi, kuncinya adalah financial planning atau perencanaan keuangan yang benar dan tepat.

Oh, iya solusi ini engga cuma berlaku buat orang yang sudah kerja, lo. Justru anak-anak muda kayak kamu dan Kanda Fajar ini yang paling butuh financial planning supaya bisa tetap gaya tapi engga menyiksa.

Dan kabar baiknya adalah kamu cuma butuh 1 hal saja untuk memulainya.

Apa itu?

Jawabannya adalah atur pengeluaranmu.

Oke. Kanda Fajar tahu jawaban tadi bikin kamu kecewa tapi memang begitulah adanya.
Gaji yang terus naik engga serta merta membuat kita hidup berkecukupan. Seringkali, cara kita mengeluarkan uanglah yang harus diubah.

It's not you your salary that make you rich. It's spending habits.

Kanda Fajar mengimplementasikan kutipan itu dan sampai sekarang, hasilnya memuaskan.
Di postingan sebelumnya, Kanda Fajar udah sedikit cerita kalau sebenarnya Kanda Fajar itu juga buruh, cuma part-time. Gajinya ya kira-kira 2,4 juta sebulan. Dari uang itu, Kanda Fajar harus bisa bayar kosan, makan, makan mewah sampai beli baju. Semua karena Kanda Fajar bisa mengatur pengeluaran.

Kalau Kanda Fajar bisa, kamu juga pasti bisa. Memang awalnya susah, tapi dalam jangka panjang, benefit-nya luar biasa.

Satu tips lagi yang mau Kanda Fajar bagi disini: bikin budget yang kamu banget.
Budget bikin kamu tahu apa yang akan kamu lakukan di masa depan. Rencanakan dan ikuti budget yang kamu buat. Niscaya kamu bakal tetap gaya tanpa menyiksa dompet.

Merasa budgeting itu ga penting?

You don't need budget unless you can tell exactly where your money goes.
If not, budget is for you.

You May Also Like

0 komentar