Iseng-Iseng Bikin Portfolio Saham, Bagaimana Kinerjanya?

by - 10.07

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
Apa yang ada di pikiranmu saat ngeliat "gambar" kayak diatas? Well, disebut gambar pun kurang tepat karena yang kamu lihat itu adalah grafik. Grafik apa? Grafik harga semua saham di Indonesia atau bahasa formalnya Indeks Harga Saham Gabungan.

Pada dasarnya, IHSG itu sama fungsinya dengan S&P 500, yaitu sebagai benchmark pasar secara keseluruhan. Jadi, para fund manager diluar sana berlomba-lomba membuat portfolio mereka sendiri yang memberi return lebih besar dari IHSG dalam kurun waktu yang sama.

Melampaui kinerja IHSG ini bukan perkara gampang. Pasar modal Indonesia itu masih muda, indikator termudahnya adalah dari banyak emiten yang ada dipasar. Indonesia Stock Exchange baru punya 500an perusahaan terbuka tapi Amerika Serikat sudah punya 2 atau 3 kali lipat dari itu. Lawan Singapura pun, jumlahnya masih kalah. Dari situ, Kanda Fajar bisa berpendapat kalau potensi untuk uptrend lebih besar daripada untuk downtrend ataupun sideways.

Artinya, kesempatan untuk mendulang untung itu terbuka lebar. Tapi itu juga berarti melampaui kinerja IHSG membutuhkan usaha yang ekstra keras. Dan Kanda Fajar boleh berbangga karena berhasil mewujudkan hal itu.

portfolioVjkse


Tuh, Kanda Fajar memang beneran bisa bikin komposisi portfolio yang cukup ampuh mengalahkan pasar. Hehhehe.

Engga percaya, dari hitung-hitungan yang Kanda Fajar buat di excel, portfolio Kanda Fajar memberi return 18% sementara IHSG cuma sebesar 8% selama 6 bulan di tahun ini. Looks legit, right?

Kanda Fajar membuat portfolio ini dengan skenario membeli semua saham pilihan di hari yang sama (2 Januari 2017) dan menjualnya di hari yang sama pula (19 Juni 2017).

Untuk strategi stock picking-nya akan Kanda Fajar simpan untuk postingan di lain waktu karena penjelasannya agak teknis. Sekarang, Kanda Fajar mau "bercerita" tentang portfolio yang sudah berhasil dibikin.

#1 Komposisi Itu Penting


Portfolio itu bukan cuma soal memilih saham apa yang patut jadi target, tapi juga soal komposisi. Komposisi disini maksudnya adalah seberapa banyak jumlah lot yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan investasi kita.

Kalau dananya tidak terbatas, mungkin itu mudah. Bagaimana kalau dana kita ada batasnya?

Karena masalah ini sering banget kita jumpai sebagai investor pemula, maka Kanda Fajar set dana awal kita sebesar 10 juta rupiah. Dengan uang segitu, begini komposisi saham-saham pilihan yang ada dalam portfolio.

komposisi lot


Komposisinya dalam jumlah lot, menyesuaikan dengan modal kita di awal. Dalam kasus ini, komposisi lotnya bukan dalam bilangan bulat. Kalau memang ingin dibulatkan, sebaiknya modal yang tersedia lebih besar dari 10 juta rupiah.

#2 Beta vs Return


Dunia investasi itu adalah soal bagaimana me-manage resiko dan imbal hasil yang optimal. Tidak ada rumus pasti tentang kedua hal ini. Yang jelas, semakin tinggi resiko, semakin tinggi tingakt imbal hasil yang kita inginkan.

Lalu bagaimana, tingkat risk & return dari portfolio yang Kanda Fajar bikin?

BETAvRETURN


Dari grafik diatas, kamu bisa lihat sendiri kalau resiko dan hasil itu berbanding lurus. Oh, iya, disini resiko diukur dalam beta. Secara sederhana, beta menunjukkan bagaimana suatu saham bergerak saat pasar (IHSG) bergerak ke arah tertentu. Beta sama dengan 1 artinya portfolio kita 100% mengikuti arah gerak pasar.

#3 Passive Investment Strategy


Seperti yang tadi sudah dijelaskan diatas, Portfolio yang Kanda Fajar buat mampu memberi return 18%. Artinya, dari modal awal yang sebesar 10 juta tadi, Kanda Fajar mampu menghasilkan 1,8 juta selama 6 bulan atau 300 ribu perbulan.

Kalau dilihat dari jumlah uangnya, keuntungan segitu memang bukan apa-apa. UMR Jakarta aja tembus 3 juta lebih per bulan.

Memang terlihat kecil, tapi yang harus diingat adalah skenarionya adalah Kanda Fajar mendiamkan saja uangnya selama 6 bulan. Jadi, Kanda Fajar ceritanya membeli semua saham dalam portfolio di harga per 2 Januari 2017 dan tidak melakukan aksi jual beli sejak itu. Itulah yang disebut teknik Passive Investment Strategy.

Strategi ini cocok buat kamu yang punya kesibukan lain selain memantau pergerakan saham setiap harinya. Cocok juga buat mahasiswa yang punya tugas seabrek kayak Kanda Fajar ini.

Return-nya mungkin tidak setinggi Active Investmen strategy atau trading yang bisa mencapai lebih dari 50% dalam rentang periode yang sama. Tapi ya itu tadi, tidak semua bisa tahan memantau fluktuasi harga terus-terusan.

Secara pribadi, Kanda Fajar menyukai teknik investasi ini karena Kanda Fajar tidak perlu repot lama-lama di depan komputer. Cukup lakukan analisa fundamental dan biarkan modal kita bekerja untuk kita.

You May Also Like

0 komentar